SIGMA FISIKA

SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI TEMPAT BELAJAR DAN BERBAGI ILMU PENGETAHUAN

Tuesday, May 14, 2019

MENETAPKAN DAN MERUMUSKAN MASALAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS




Konsep penelitian tindakan bermula dari ide Kurt Lewin tahun 1946. Lewin menggunakan pendekatan penelitian tindakan setelah usainya perang dunia kedua dalam usaha menyelesaikan berbagai masalah sosial. Ide tersebut kemudian disempurnakan dan dikembangkan untuk tindakan kelas oleh para ahli sesudahnya, antara lain oleh Stephen Corey tahun 1953 dan John Elliot tahun 1976. PTK merupakan salah satu kegiatan ilmiah yang disarankan untuk dilakukan guru. Dengan PTK berarti terdapat tindakan nyata dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan profesionalitas guru.
Walaupun begitu strategis, konsep dan fungsi PTK dalam peningkatan profesionalitas guru, namun ternyata banyak permasalahan yang penulis dapatkan saat bertugas dalam fasilitasi mengenai Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kepada guru dan juga pengawas dan kepala sekolah. Apa yang kemudian dapat disimpulkan antara lain bahwa diperlukan suatu prosedur yang cukup praktis bagi guru dan pendidik untuk dapat melakukan PTK. Walaupun demikian, kita tidak dapat melakukan hal secara praktis dengan meninggalkan teori, begitu pula kita tidak dapat melakukan hal berdasarkan teori belaka tanpa mengetahui pada tataran teknis pelaksanaannya. Oleh karena itu, walaupun akan disampaikan sepraktis mungkin, namun diusahakan masih dalam koridor teori mengenai penelitian tindakan.
Dalam artikel kali ini, penulis mencoba menguraikan langkah-langkah yang diperlukan untuk menetapkan dan merumuskan masalah PTK. Perumusan masalah merupakan bagian yang paling penting dalam PTK, mengingat hal ini merupakan hal mendasar bagi pelaksanaan sebuah PTK. Di bawah ini langkah-langkah dalam menetapkan sebuah masalah PTK hingga merumuskan masalah yang akan dipecahkan dengan PTK.


A.     Bagaimana menetapkan masalah PTK?

Identifikasi dan kumpulkan semua permasalahan yang terjadi pada pembelajaran yang biasa dilakukan.

o   Prinsip 1: permasalahan harus dialami sendiri oleh guru dan siswa yang bersangkutan, bukan pihak lain (misalnya guru lain, kelas lain, atau sekolah lain).

o   Prinsip 2: permasalahan harus terkait dengan materi pelajaran yang diajarkan guru, bukan topik di luar mata pelajaran.

o   Petunjuk 1: masalah yang dipilih tidak terlalu sederhana, tapi juga tidak terlalu rumit.

o   Petunjuk 2: masalah yang memungkinkan dilakukan siklus (untuk mengulangi tindakan solusi).

o   Catatan : Bisa terjadi bahwa suatu hal bagi guru yang satu merupakan masalah, namun bagi guru yang lain bukan merupakan masalah. Namun, setiap guru pasti memiliki masalah. Analoginya, setiap orang pasti memiliki masalah kesehatan, seberapa pun kecilnya. Mungkin bagi seseorang masalah kesehatan paling besar adalah menurunkan berat badan, kulit kurang cerah, atau susah tidur, dan mungkin bagi orang lain masalah kesehatannya adalah penyakit yang lebih besar semisal demam, patah tulang, atau penyakit jantung. 

Tetapkan tingkat kegentingan (emergency) dan kepentingan (urgency) dari setiap masalah

o   Prinsip 1: masalah dianggap genting bila masalah tsb dapat mengakibatkan masalah lain yang lebih besar jika tidak segera dipecahkan.

o   Prinsip 2: masalah dianggap penting bila masalah itu langsung berhubungan dengan kemajuan belajar siswa (baik kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya)

o   Petunjuk 1: buat skala prioritas berdasarkan kemampuan (guru), waktu, biaya, dan sarana yang harus tersedia.

Pilih yang paling genting dan paling penting untuk dipecahkan.


 o   Petunjuk 1: dua atau lebih masalah mungkin dapat dipecahkan dengan tindakan yang sama.
o   Catatan : bisa terjadi masalah yang paling penting dan genting bagi guru yang satu, bukan menjadi masalah yang paling genting dan penting bagi guru yang lain. Jadi, dalam memilih masalah, jangan berdasarkan pada orang lain, namun harus didasarkan pada guru bersangkutan.

B.      Bagaimana memilih tindakan untuk memecahkan masalah tsb?

Selidiki mengapa masalah tersebut dapat terjadi? Apa saja hal-hal yang mungkin menyebabkan masalah tersebut terjadi?

o   Catatan : analog seperti masalah kesehatan, bahwa  kita  perlu  mendiagnosa apa yang mungkin menjadi penyebab penyakit tersebut. Demikian pula dengan masalah pada PTK. Dengan mengetahui hal-hal yang terkait dengan masalah tersebut, maka pemilihan tindakan dapat lebih rasional dan akurat.

Pelajari berbagai macam tindakan dalam pembelajaran, kelebihan dan kekurangannya. Kumpulkan pula hasil penelitian yang mendukung tindakan tsb.

o   Petunjuk : tindakan dapat berupa metode atau teknik pembelajaran (misalnya metode eksperimen tipe A, metode diskusi kelompok tipe B), cara interaksi belajar mengajar (misalnya bertanya secara kelompok, bertanya dengan teman, bertanya dengan tulisan, menjawab dengan kertas) atau cara mengelola kelas termasuk sarana dan prasarana (misalnya susunan kursi melingkar, belajar di taman, penggunaan teknologi).

Pilih salah satu tindakan yang paling memungkinkan dapat memecahkan masalah PTK.

o   Prinsip : tindakan yang dipilih harus rasional dan aplikabel (dapat diterapkan)
o   Catatan : seperti memilih  obat  untuk  menyembuhkan  penyakit,  maka kita harus selektif dan tepat dalam memilih obat. Jadi, jangan sampai tindakan yang kita pilih tidak sesuai dengan masalah.

  Terhadap tindakan yang dipilih, rumuskan langkah-langkah tindakan tersebut secara teknis.

o   Petunjuk : langkah-langkah tindakan menggambarkan apa yang dilakukan guru, apa yang dilakukan siswa, dan sarana atau prasarana apa yang harus dipersiapkan.
o   Catatan : jika tindakan tidak dijabarkan secara teknis, maka akan sulit  untuk mengidentifikasi apa yang harus diperbaiki bila dalam sekali ujicoba (siklus) belum diperoleh hasil yang diharapkan.

C.     Bagaimana merumuskan masalah PTK?

  • Nyatakan rumusan masalah dengan kalimat tanya.
  • Nyatakan rumusan masalah lebih dari satu, minimal terdapat satu masalah untuk menjawab hasil (dengan ciri pertanyaan: Apakah ….), dan satu masalah untuk menjawab proses (dengan ciri pertanyaan: Bagaimana …. )

   Contoh.

  • Apakah metode pembelajaran koorperatif tipe ABC dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa kelas VII SMP Mulia Kecamatan Cerdas Kabupaten Unggul?
  • Bagaimana (penerapan) metode pembelajaran koorperatif tipe ABC (yang) dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa kelas VII SMP Mulia Kecamatan Cerdas Kabupaten Unggul?

o   Prinsip : dengan telah dirumuskannya masalah PTK, maka kegiatan penelitian difokuskan untuk mencari jawab terhadap masalah tersebut dengan melakukan aksi (tindakan) yang ada. Walaupun demikian, harus juga dijaga dan direkam agar perlakuan tindakan tersebut tidak menimbulkan masalah baru.

o   Petunjuk : Walaupun bukan suatu keharusan, namun dengan melaporkan komponen-komponen penting lainnya dalam hasil penelitian, akan turut mendukung bahwa PTK yang dilakukan selain berhasil menuntaskan masalah juga tidak menimbulkan masalah baru. Komponen lain yang perlu diawasi dan (mungkin) dilaporkan, antara lain: prestasi belajar, motivasi belajar, dan disiplin belajar. Oleh karena bukan fokus PTK, maka komponen-komponen lain ini dikumpulkan datanya menggunakan instrumen yang sederhana namun fokus. 
Demikian langkah-langkah dalam menetapkan masalah hingga merumuskan masalah PTK. Semoga tulisan di atas dapat membantu para pendidik, utamanya guru, agar dapat menyusun sebuah proposal PTK yang berkualitas. Tentu, masih ada komponen lain yang harus dikaji dan disusun dalam PTK. Untuk artikel mendatang, akan diuraikan kelanjutan langkah yang diperlukan tersebut.



SUMBER REFERENSI


Sumardyono. 2003. Penelitian Tindakan. Naskah Modul Diklat Berjenjang. Jakarta: Dirjen PMPTK.


Share:

0 comments:

Post a Comment

About

Blogger templates