SIGMA FISIKA

SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI TEMPAT BELAJAR DAN BERBAGI ILMU PENGETAHUAN

Monday, May 13, 2019

PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS


PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS


PENGANTAR
Melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran merupakan salah satu tuntutan kompetensi guru, oleh karena itu siapapun guru dan calon guru dituntut mampu melakukan penelitian tindakan kelas untuk peningkatan keprofesionalan mereka. Tulisan ini sengaja dirancang guna membekali para guru dan mahasiswa calon guru untuk pegangan pelaksanaan tugas pewujudan kinerjanya sekaligus pedoman bagi calon penulis jurnal ini. Hal ini penting mengingat berdasarkan pengalaman penulis mendampingi guru baik yang sudah bersertifikat pendidik profesional maupun yang belum, kesulitan utama mereka dalam PTK adalah bagaimana menyusun proposal, dan bagaimana menulis

laporan PTK setelah mulai mengadakan serangkaian tindakan. Bagian pertama sajian ini tentang Penyusunan Proposal PTK berisi tentang: isi proposal, bagian pokok dan bagian akhir dari proposal PTK. Bagian kedua Penyusunan Laporan Hasil PTK menguraikan tentang bagian awal, bagian pokok dan bagian akhir laporan hasil PTK (yang akan terbit pada edisi mendatang).

Penyusunan usulan/proposal penelitian merupakan langkah awal penulisan penelitian. Penyusunan proposal mencakup beberapa langkah yaitu 1) pengajuan usulan judul, 2) persetujuan judul, 3) pembimbingan (jika perlu), 4) revisi dan 5) pengesahan proposal yang telah disetujui.

PTK merupakan kegiatan nyata, untuk meningkatkan mutu PBM; merupakan tindakan oleh guru kepada siswa yang harus berbeda dari kegiatan biasanya. PTK terjadi dalam siklus berkesinambungan; minimum dua siklus. Judul memuat gambaran upaya yang dilakukan untuk perbaikan pembelajaran sesuai hasil analisis karakteristik siswa dalam pembelajaran sebelumnya, tindakan yang diambil untuk merealisasikan upaya perbaikan pembelajaran, dan setting penelitian. Judul sebaiknya tidak lebih dari 15 kata/frasa.

ISI PROPOSAL
Dalam penyusunan usulan penelitian/proposal penelitian perlu dilakukan beberapa kegiatan pokok, yaitu; (1) mendeskripsikan dan menemukan masalah dengan berbagai metode atau cara, (2) menentukan cara pemecahan masalah dengan pendekatan, strategi, media, atau kiat tertentu, (3) memilih dan merumuskan masalah baik berupa pertanyaan atau pernyataan sesuai dengan masalah dan cara pemecahannya, (4) menetapkan tujuan pelaksanaan PTK sesuai dengan masalah yang ditetapkan, (5) memilih dan menyusun persfektif, konsep, dan perbandingan yang akan mendukung dan melandasi pelaksanaan PTK, (6) menyusun siklus yang berisi rencana-rencana tindakan yang diyakini dapat memecahkan masalah-masalah yang telah dirumuskan, (7) menetapkan cara mengumpulkan data sekaligus menyusun instrumen yang diperlukan untuk menjaring data, (8) menetapkan dan menyusun cara-cara analisis data.

Hasil kegiatan di atas dituangkan dalam kerangka proposal yang terdiri dari 3 bagian yang ditulis tidak lebih dari 15 halaman (khusus untuk bagian pokok). Tiga bagian itu adalah (1) bagian awal (halaman sampul, halaman persetujuan, Kata Pengantar dan daftar isi), (2) bagian pokok (Pendahuluan: latar belakang, rumusan masalah dan pemecahannya, tujuan dan manfaat penelitian; Kajian pustaka: kajian teori, kajian hasil penelitian yang relevan, kerangka pikir dan hipotesis, Rencana Penelitian: seting dan subyek penelitian, prosedur PTK, pengumpulan dan analisis data) dan (3) bagian akhir.

Bagian pokok propsal terdiri dari 3 yaitu: (1) pendahuluan: latar belakang, rumusan masalah dan pemecahannya, tujuan dan manfaat penelitian; (2) kajian pustaka: kajian teori, kajian hasil penelitian yang relevan, kerangka pikir dan hipotesis, dan (3) rencana penelitian: setting dan subyek penelitian, prosedur PTK, pengumpulan dan analisis data.

1)       Pendahuluan
Pendahuluan proposal penelitian berisi: latar belakang permasalahan, permasalahan penelitian, cara pemecahan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian.

Latar Belakang Masalah
Dalam latar belakang permasalahan diuraikan urgensi penanganan perma- salahan yang diajukan itu melalui PTK. Untuk itu, harus ditunjukkan fakta – fakta yang mendukung, baik yang berasal dari pengamatan guru selama ini maupun dari kajian pustaka. Dukungan beberapa hasil penelitian–penelitian terdahulu (apabila ada) juga akan lebih mengokohkan argumentasi mengenai urgensi serta signifikansi permasalahan yang akan ditangani melalui PTK yang diusulkan. Karakteristik khas PTK yang berbeda dari penelitian formal hendaknya tercermin dalam uraian di bagian ini. Untuk itu beberapa hal berikut ini perlu dimasukkan dalam latar belakang masalah.

Menuliskan kenyataan yang ada (kondisi awal); Kondisi awal sesuai dengan permasalahan yang diteliti; Contoh: ”Permasalahan pokok, misalnya hasil belajar matematika bagi peserta didik kelas V rendah” diuraikan berdasarkan fakta rendahnya itu dibuktikan dari mana, berapa rata-rata nilai ulangan harian, berapa banyak peserta didik yang belum tuntas, ’siapa” saja yang belum tuntas, dan sebagainya (sesuai data riel dari SD tersebut). Kemudian menetapkan masalah pokok yaitu yang mengandung kondisi awal dari subyek yang diteliti. Selain itu menuliskan masalah lain yaitu masalah yang mengandung kondisi awal permasalahan yang menyelimuti guru sebagai peneliti: misalnya selama ini belum memanfaatkan alat peraga tertentu dalam pembelajaran matematika; berdasarkan fakta bila belum menggunakan alat peraga, menggunakan cara apa.

Menuliskan harapan yang dituju (kondisi akhir), yaitu kondisi setelah dilakukan penelitian. Harapan yang dituju (kondisi akhir) dapat berupa kondisi akhir yang diteliti atau bagi subyek penelitian (peserta didik/guru/kepsek), maupun kondisi akhir peneliti. Kondisi akhir yang diteliti (peserta didik), misalnya meningkatnya hasil belajar matematika pada operasi hitung bilangan pecahan. Berapa nilai rata-rata ulangan harian yang diharapkan setelah penelitian, mengapa perlu ditingkatkan. Kondisi akhir peneliti (guru), misalnya memperbaiki proses pembelajaran dengan memanfaatkan penggunaan alat peraga tertentu.

Permasalahan Penelitian

Menulis masalah yaitu kesenjangan antara kenyataan dan harapan; Kesenjangan yang dimaksud adalah 1: kesenjangan antara kondisi awal dan kondisi akhir masalah pokok dari subyek penelitian, 2: kesenjangan antara kondisi awal dan kondisi akhir masalah lain dari peneliti. Menulis masalah yang dihadapi yaitu adanya kesenjangan antara harapan (kondisi akhir) dengan kenyataan (kondisi awal): Masalah yang diteliti, nilai ulangan kenyataan (kondisi awal)-nya masih rendah, harapan (kondisi akhir)-nya meningkat; Masalah peneliti, kondisi awal pembelajarannya belum memanfaatkan alat peraga, harapan (kondisi akhir)-nya menggunakan alat peraga.

Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benar-benar di angkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya permasalahan yang dimaksud seyogyanya bukan permasalahan yang secara teknis metodologik di luar jangkauan PTK. Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah, yang dilanjutkan dengan  analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran permasalahan yang perlu di tangani itu nampak menjadi perumusan masalah tersebut. Dalam bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut.

            Cara Pemecahan Masalah

Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Alternatif pemecahan yang diajukan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dari hasil analisis masalah. Di samping itu, juga harus terbayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan dan/atau peningkatan implementasi program pembelajaran dan/atau berbagai program sekolah lainnya.Juga harus dicermati artikulasi kemanfaatan PTK berbeda dari kemanfaatan penelitian formal.

Menulis cara pemecahan masalah, perlu adanya: identifikasi masalah, pembatasan masalah dan perlu adanya solusi. Pada saat melakukan identifikasi masalah, guru sudah harus mengkaji berbagai literatur yang relevan. Identifikasi Masalah pada umumnya berupa pertanyaan, banyaknya pertanyaan selalu lebih dari satu sehingga banyaknya pertanyaan lebih banyak dari banyaknya rumusan masalah. Penggunaan kalimat tanya dimulai dari yang komplek (holistik) sampai yang spesifik (atomistik). Kalimat tanya tersebut tidak harus dijawab, karena hanya sebagai identifikasi masalah; Kalimat tanya tersebut harus mengacu/ mengandung variabel pada masalah pokok (Y).

Pembatasan Masalah diperlukan adanya pembatasan masalah agar penelitian lebih terfokus; Langkah awal, membatasi banyaknya variabel yang diteliti, variabel apa saja. Membatasi atau menjelaskan variabel terikat, misalnya untuk peserta didik mana, kelas berapa, semester kapan, tahun kapan, materi apa dan sebagainya. Membatasi atau menjelaskan variabel bebas (X), misalnya, alat peraganya apa, apa yang dilakukan, siapa yang melakukan, kapan tindakan itu akan dilakukan.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dikembangkan dari identifikasi dan pembatasan masalah; Umumnya berbentuk kalimat tanya. Kalimat tanya pada rumusan masalah lebih terinci karena telah melalui identifikasi dan pembatasan masalah. kalimat tanya yang diajukan mengacu ke variabel pada masalah pokok (Y) dan variabel pada masalah lain yang diteliti (X). Kalimat tanya pada rumusan masalah kelak harus terjawab setelah pelaksanaan tindakan. Kualitas penelitian sangat dipengaruhi oleh kualitas jawaban bukan hanya banyaknya rumusan masalah. Rumusan  masalah akan dipakai sebagai dasar untuk penentuan teori yang akan digunakan; Selain itu juga sebagai arah dalam menentukan judul penelitian, sebagai arah dalam menentukan metode penelitian dan sebagai arah dalam menentukan jenis penelitian.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara jelas.paparkan sasaran antara dan akhir tindakan perbaikan.perumusan tujuan harus konsisten dengan hakekat permasalahan yang dikemukakan dalam bagian–bagian sebelumnya. Dengan sendirinya, artikulasi tujuan PTK berbeda dari tujuan formal. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang IPA yang bertujuan meningkatkan prestasi peserta didik dalam mata pelajaran IPA melalaui penerapan strategi PBM yang baru, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar mengajar dan sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi PBM baru bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Selanjutnya ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverfikasi secara obyektif.Syukur apabila juga dapat dikuantifikasikan.

Di samping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungan ini, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan– keuntungan yang dijanjikan, khususnya bagi peserta didik sebagai pewaris langsung (direct beneficiaries) hasil PTK, di samping bagi guru pelaksana PTK, bagi rekan- rekan guru lainnya serta mungkin bagi para dosen LPTK sebagai pendidik guru. Berbeda dari konteks penelitian formal, kemanfaatan bagi pengembangan ilmu. Teknologi dan seni tidak merupakan prioritas dalam konteks PTK, meskipun kemungkinan kehadirannya tidak ditolak.

2)       Kajian Pustaka

Pada bagian ini berisi kajian teori, penelitian yang relevan (bila ada), kerangka berpikir dan hipotesis tindakan. Uraikan dengan jelas kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari rancangan penelitian tindakan. Kemukakan juga teori, temuan dan bahan penelitian lain yang mendukung pilihan tindakan untuk mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Pada bagian akhir dapat dikemukakan hipotesis tindakan yang menggambarkan indikator keberhasilan tindakan yang diharapkan/diantisipasi.

           Kajian Teori

Pada kajian teori dipaparkan landasan substantive dalam arti teoritik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif yang akan diimplementasikan. Tinjauan pustaka berisi falsafah dasar, teori, dan konsep yang sangat erat kaitannya dengan scope penelitian yang akan didilakukan. Teori-teori yang diambil harus relevan dengan: (1) permasalahan dilihat dari isinya, dan (2) variabel yang diteliti dilihat dari judul/sub judul yang ditulis pada kajian teori terutama variabel tindakan (X) harus dijelaskan bukan hanya teori tentang apa dan mengapa penting, tetapi bagaimana secara teoritis implementasi variabel X dalam pembelajaran. Tinjauan pustaka diambil dari teori-teori yang terbaru dan dari berbagai aliran. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian baik pengalaman peneliti pelaku PTK sendiri yang relevan maupun pelaku–pelaku PTK lain disamping terhadap teori–teori yang lazim termuat dalam berbagai  kepustakaan. Setelah itu dilanjutkan dengan ulasan teoritik.

           Kajian Hasil-Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian yang telah ada/dilakukan sebelumnya, relevan dengan permasalahan dan variabel yang diteliti perlu dikaji untuk menghindari duplikasi. Penelitian yang relevan yang perlu dikaji baik yang dilakukan oleh peneliti sendiri maupun oleh orang lain. Kajian ini menjadi dasar ulasan penelitian-penelitian embpiris yang berkaitan dengan teori yang digunakan sebagai landasan. Argumentasi logis dan teoretik diperlukan bukan hanya untuk membuat ulasan, tetapi juga untuk menyusun kerangka teori/konseptual. Dari sini akan nampak celah atau kesempatan yang membedakan penelitian kita dan penelitian sebelumnya/lainnya.

            Kerangka Pikir

Dalam kerangka teori/pikir, peubah dicantumkan sebatas yang diteliti dan dapat dikutip dari dua atau lebih karya tulis/bacaan. Kerangka teori sebaiknya menggunakan acuan yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti dan acuan-acuan yang berupa hasil penelitian terdahulu. Semakin banyak sumber bacaan, semakin baik, dengan jumlah minimal 10 (sepuluh) sumber, baik dari teks book atau sumber lain misalnya jurnal, artikel dari majalah, Koran, internet dan lain-lain.

Kerangka pemikiran yang berisi penjelasan teoritik digunakan untuk mendiagnosis masalah. Dari diagnosis ini, kemudian dilanjutkan dengan memodelkan penelitian yang kita buat. Di sini terkandung teori dasar dan referensi penelitian terdahulu. Kerangka pemikiran bisa juga dibantu dengan menampilkan bagan yang akan membantu mempermudah pembaca mengetahui arah penelitian dan bagi peneliti bisa sebagai petunjuk penguraian variabel dan indikator instrument penelitian.

Pada akhir kerangka teori penulis menyusun model teori dengan memberi keterangan. Model teori dimaksud merupakan kerangka pemikiran penulis dalam penelitian yang sedang dilakukan. Kerangka itu dapat berupa kerangka dari ahli yang sudah ada, maupun kerangka yang berdasarkan teori-teori pendukung yang ada. Dari kerangka teori yang sudah disajikan dalam sebuah skema, harus dijabarkan jika dianggap perlu memberikan batasan-batasan, maka asumsi-asumsi harus dicantumkan.

           Hipotesis Penelitian

Hipotesis diturunkan dari kerangka pemikiran. Berdasarkan rumusan masalah penelitian, tinjauan pustaka, dan kerangka pemikiran, maka dapat diturunkan hipotesis atau dugaan. Hipotesis berisi hipotesis tindakan, bukan hipotesis statistik maupun hipotesis penelitian; Dengan demikian merupakan jawaban sementara berdasarkan pada kajian teori dan kerangka berpikir; Selain itu hipotesis menjawab rumusan masalah yang diajukan, dan merupakan hipotesis tindakan bukannya hipotesis penelitian.

3)       Rencana Penelitian

Pada rencana penelitian ini dipaparkan: setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian, variabel yang akan diselidiki, rencana tindakan, data dan cara pengumpulannya, indikator kinerja dan analisis data yang akan dilakukan.

           Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian

Pada bagian setting penelitian dan karakteristik subjek ini disebutkan di mana penelitian tersebut akan dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dari kelas tersebut seperti komposisi peserta didik pria dan wanita, latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan, tingkat kemampuan dan lain sebagainya. Aspek substantive permasalahan, juga dikemukakan pada bagian ini.

Variabel yang Akan Diteliti


Pada bagian variabel yang akan diselidiki ditentukan variabel-variabel penelitian yang dijadikan titik-titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel tersebut dapat berupa (1) variabel input yang terkait dengan peserta didik, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya; Namun dalam PTK, lazimnya variabel X yaitu tindakan guru merupakan variabel (2) proses penyelenggaraan KBM seperti interaksi belajar-mengajar, keterampilan bertanya, guru, gaya mengajar guru, cara belajar peserta didik, implementasi berbagai metode mengajar di kelas yang inovatif, dan sebagainya, dan (3) varaibel output (Y) seperti rasa keingintahuan peserta didik, kemampuan peserta didik mengaplikasikan pengetahuan, motivasi peserta didik, hasil belajar peserta didik, sikap terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan dan sebagainya.

Rencana Tindakan

Pada bagian rencana tindakan ini digambarkan rencana tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan pembelajaran, seperti:

(1)     Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan entry behavior. Pelacakan tes diagnostik untuk menspesifikasi masalah. Pembuatan skenario pembelajaran dengan minimal 4 kali pertemuan tatap muka (penyajian materi, penilaian hasil belajar peserta didik, analisis hasil penilaian, dan tindak lanjut yang dapat berupa pengajaran remedial dan atau pengayaan), pengadaan alat–alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain–lain yang terkait bdengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang perlu ditetapkan sebelumnya. Disamping itu juga diuraikan alternatif–alternatif solusi yang akan dicobakan dalam rangka perbaikan masalah.
(2)     Implementasi Tindakan yaitu skenario kerja tindakan perbaikan dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.
(3)     Observasi dan Interpretasi yaitu uraian tentang prosedur perekaman/observasi dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang.
(4)     Analisis dan Refleksi yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan serta kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.

          Data dan Cara Pengumpulannya

Pada bagian data dan cara pengumpulannya ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan dengan baik variabel X yaitu proses tindakan guru dan respon siswa maupun dampak tindakan perbaikan (variabel Y) yang di gelar, yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurang-berhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya.

Di samping itu teknik pengumpulan data setiap variabel yang diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif, pembuatan jurnal harian, observasi aktivitas di kelas (termasuk berbagai kemungkinan format dan alat bantu rekam yang akan digunakan) penggambaran interaksi dalam kelas (analisis sosiometrik), pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen dan sebagainya. Selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK ini tidak boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK, para guru juga harus aktif sebagai pengumpul data, bukan semata-mata sebagai sumber data.

Akhirnya semua teknik pengumpulan data yang digunakan harus mendapat penilaian kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Sebab meskipun mungkin saja memang menjanjikan mutu rekaman yang jauh lebih baik, penggunaan teknik perekaman data yang canggih dapat saja terganjal keras pada tahap tayang ulang dalam rangka analisis dan interpretasi data.

Validasi diperlukan agar diperoleh data yang valid. Validitas yang akan digunakan perlu disesuaikan dengan data yang akan dikumpulkan. Untuk data kuantitatif (berbentuk angka) umumnya yang divalidasi instrumennya. Validitas yang digunakan, validitas teoretik maupun validitas empirik. Untuk itu diperlukan kisi-kisi agar terpenuhinya validitas teoretik. Data kualitatif (misalnya observasi, wawancara), dapat divalidasi melalui triangulasi: triangulasi sumber, data berasal dari beberapa sumber. Atau triangulasi metode, data berasal dari beberapa metode.

Indikator Kinerja

Pada bagaian Indikator kinerja ini tolak ukur keberhasilan tindakan perbaikan yang akan dipakai, ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya untuk tindak perbaikan melalui PTK; jika bertujuan mengurangi kesalahan konsep peserta didik, misalnya, perlu ditetapkan kriteria keberhasilan dalam bentuk pengurangan (jumlah jenis dan atau tingkat kegawatan) miskonsepsi yang tertampilkan yang patut diduga sebagai dampak dari implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud.

            Analisis Data

Analisis data yang akan digunakan sesuai dengan metode dan jenis data yang dikumpulkan. Pada PTK, data yang dikumpulkan dapat berbentuk kuantitatif maupun kualitatif. Pada PTK tidak harus menggunakan uji statistik, tetapi bisa saja cukup dengan deskriptif. Data kuantitatif menggunakan analisis diskriptif komparatif yaitu membandingkan misalnya nilai tes kondisi awal, nilai tes setelah siklus 1 dan nilai tes setelah siklus 2. Data kualitatif hasil pengamatan maupun wawancara menggunakan analisis diskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi dari tiap-tiap siklus.

            Bagian Akhir

Pada bagian akhir proposal berisi daftar pustaka dan lampiran. Daftar pustaka yang akan dipakai dalam penelitiandisusun menurut urutan abjad pengarang; hendaknya pustaka benar–benar relevan dan sungguh–sungguh akan dipergunakan dalam penelitian. Bagaimana menyusun dan memanfaatkannya akan dibahas lebih lanjut pada bab IV. Pada proposal telah digunakan minimal 5 sumber untuk setiap variabel dan untuk kaitan antar variabel minimal 3 sumber. Semua sumber diharapkan yang terbit kurang dari 10 tahun.
Bagian lampiran dapat berisi rancangan pembelajaran (RP), lembar observasi, panduan diskusi/refleksi, instrumen penelitian yang akan digunakan, dan lain-lain. Hal–hal lain yang dapat memperjelas karakteristik kancah PTK yang diusulkan dapat disertakan dalam usulan penelitian ini.

PENUTUP

Penelitian tindakan kelas yang dimulai dengan penyusunan proposal seperti dipaparkan di atas, sebetulnya mudah, siapapun guru lulusan S1 seharusnya tidak akan mengalami kesulitan untuk memulainya. Apa lagi sebagian besar kegiatan PTK itu melekan dengan tugas pokok dan fungsi guru dalam mengajar. Jika proposal seperti yang dipaparkan di atas sudah disusun, berarti guru yang peneliti PTK itu sudah melaksanakan lebih dari 65% penelitiannya; selebihnya (35%) tinggal pelaksanaan pengumpulan dan analisis data, pembahasan, membuat kesimpulan dan saran yang disajikan dalam laporan penelitian (pelajari uraiannya pada Scholaria terbitan berikut).







DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, S., Suhardjono, dan Supardi, 2008. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara
Aunurrachman, dkk. 2009. Penelitian Pendidikan SD. Jakarta: Depdiknas Dirjen PT Hatimah, I., Susilana, R., dan Nuraedi, 2008. Penelitian Pendidikan. Jakarta:
Depdiknas Dirjen PT
Slameto, 2008. Proposal, Pelaksanaan dan Evaluasi Keberhasilan PTK. Seminar Nasional IKIP PGRI Semarang 19 Juni 2008
Slameto, 2011. Penyusunan Proposal dan Hasil Penelitian Tindakan Kelas.
Salatiga: Widya Sari Press

Share:

0 comments:

Post a Comment

About

Blogger templates